Contoh akhlaq Rasulullah SAW

Tulisan Agus Sofyan, Kentucky,USA

Thumamah bin Uthal adalah pemimpin suku (bani) Hanifah dari daerah penghasil gandum terbesar di jazirah Arab pada saat itu, Yamamah. Thumamah tidak peduli dengan perseteruan antara Quraisy Makkah dan Prophet Muhammad SAW di Madinah; sampai dia menerima surat “ajakan” untuk menyembah Allah oleh Rasulullah. Thumamah langsung naik pitam. Darahnya mendidih karena marah dengan kelancangan Rasulullah “memerintahkan” dia, Thumamah si pemimpin besar bani Hanifa!. Saking marahnya Thumamah mengadakan beberapa kali gerakan rahasia membunuh Nabi SAW. Thumamah tidak pernah berhasil membunuh Nabi tapi berhasil membunuh beberapa Muslimins.

Pada saat musim haji (jaman sebelum Rasulullah, orang Arab juga berhaji tapi ritualnya beda), Thumamah pergi untuk berhaji. Dia tidak sadar kalau salah arah.Tak dinyana, dia berkemah di daerah kekuasan kaum Muslimin Madinah. Akhirnya dia tertangkap dan dibawa ke Masjid AnNabi dan diikat disalah satu pilar Masjid. Tak ada seorangpun dari pasukan yang menangkap Thumamah tahu kalau orang yang ditangkap adalah Thumamah, pemimpin bani Hanifa, yang sering menyerang Rasulullah dan pengikutnya.

Pada saat Rasulullah SAW datang untuk sholat Fajr dan melihat Thumamah terikat di pilar Masjid, beliau bertanya kepada para sahabat apakah mereka tahu kalau orang yang mereka tangkap adalah Thumamah? Para sahabat sangat kaget mendengarnya. Rasulullah SAW memerintahkan untuk memperlakukan Thumamah dengan baik. Beliau kemudian memimpin shoolat Fajr disaksikan oleh Thumamah!. Setelah sholat Fajr, Rasulullah pulang ke rumah dan meminta istrinya untuk memasak makanan yang lezat untuk Thumamah. Rasulullah sendiri memerah susu kambing untuk Thumamah. (Allahumma shalli ‘ala AnNabi!). Beliau memerintahkan penjaga tawanan untuk mengendorkan ikatan dan membeiarkan Thumamah menyantap hidangan lezat dan meminum susu kambing tsb dengan lahap. Setelah melihat Thumamah selesai dengan santapannya, Rasulullah bertanya: “Apa yang engkau inginkan wahai Thumamah?”. Thumamah terdiam sejenak. Rasa marah terhadap Rasulullah SAW hilang setelah merasakan sendiri perlakuan Rasulullah yang lembut thd dia. Kemudian dia berkata: “O Muhammad, aku serahkan urusanku padamu. Kalau engkau ingin membunuhku, maka aku siap. Kalau engkau membiarkan aku pergi dan menginginkan harta dariku, aku siap”. Rasulullah SAW tidak berkata apa-apa kemudian berjalan pergi meninggalkan Thumamah yang kebinguungan dengan sikap Rasulullah SAW tersebut.

Selama tiga hari Rasulullah SAW tidak menegur Thumamah. Tapi beliau terus memerintahkan untuk memperlakukan Thumamah dengan baik dan memberi makanan yang lezat kepadanya. (Note: Dalam Islam kita diwajibkan untuk melayani tamu kita dengan sangat baik. Yang dicontohkan Rasulullah terhadap Thumamah diluar dugaan dan kemampuan kita. Beliau bahkan memperlakukan “MUSUH” dengan sangat baik). Selama 3 hari 3 malam Thumamah menikmati hidangan lezat dan menikmati tayangan kehidupan Rasulullah dan sahabatnya di dalam Masjid. Thumamah menikmati tayangan sholat, tazkirah, tausiyah, rapat, dll kegiatan di dalam Masjid. Thumamah merasakan kesejukan luar biasa dalam dirinya dan “bahagia’ hidup sebagai tahanan perang Rasulullah SAW.

Setelah tiga hari membiarkan Thumamah menikmati semua hidangan dan tayangan, kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada Thumamah: “Apa yang engkau inginkan wahai Thumamah?”. Thumamah menjawab: “Wahai Muhammad, engkau tahu keputusanku. Terserah kepadamu. Kalau engkau hendak membunuhku, maka aku siap. Kalau engkau meminta harta dan membiarkan aku pergi, maka aku akan memenuhinya”. Rasulullah SAW tidak berkata apa-apa dan memerintahkan para sahabat untuk membebaskan Thumamah dengan damai. Thumamahpun pergi dengan perasaan campur aduk. Setelah keluar dari kota Madinah, dia duduk istirahat dan dengan perasaan campur aduk tadi merenung seorang diri di bawah pohon kurma. “Apa yang telah saya lakukan?” Seolah tersadar dari tidur, Thumamah kemudian berbalik arah dan kembali masuk kota Madinah dengan langkah mantap untuk menemui Rasulullah SAW. Para sahabat bingung dan khawatir ketika melihat Thumamah kembali.

Dihadapan Rrasulullah SAW, Thumamah mengucapkan sahadah dan berkata bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang sangat dia benci sebelumnya dan sekarang merupakan orang paling dia cinta. (Allahu Akbar!). Dia minta ijin utnuk tinggal di Madinah. Rasulullah SAW bertanya apa yang sedang Thumamah lakukan ketika tertangkap oleh pasukan Muslim beberapa hari yang lalu. Thumamah bilang bahwa dia dalam perjalanan untuk berhaji. Rasulullah SAW memerintahkan Thumamah untuk melanjutkan perjalanan haji tsb dan mengajarkan Thumamah “ritual haji yang benar sesuai tuntunan Islam”. Rasulullah juga melarang Thumamah tinggal di Madinah. Lebih baik Thumamah kembali ke kaumnya dan mengajak kaumnya ke jalan Islam.

Kafir Quraisy terkejut ketika melihat ritual haji Thumamah. Mereka menasehati Thumamah yang dianggap telah gila mengikuti ajaran Muhammad SAW. Namun, taka ada seorang Quraisypun berani “macem-macem” dengan Thumamah. Mereka sadar kalau mereka ganggu Thumamah maka “Pasokan gandum” dari Yamamah akan terhenti, padahal Mekkah belum swa-sembada gandum saat itu. Thumamah berkata pada kafir Quraisy apabila mereka tidak ikut ritual dia, dia janji akan menghentikan pasokan gandum. Tentu saja tak satupaun kafir Quiraisy yang mau ikut ritual “aneh” Thumamah.

Ketika kembali dari hajj, Thumamah langsung memenuhi janjinya untuk menyetop “pasokan gandum ke Makkah”. Kafir Quraisy di Makkah menjadi sangat kesulitan dan mulai merasakan akibat “embargo gandum” Thumamah tsb. Mereka kemudian menulis surat ke Rasulullah SAW untuk meminta Thumamah menghentikan embargo gandum tsb. Rasulullahg SAW adalah “rahmatan lil ‘alamin”. Dengan rasa kasih sayang kepada semua insan, Rasulullah SAW meminta Thumamah membuka kembali “kran” gandum ke Makkah.

Sumber : Disini

Iklan

Tentang abizakii

"Seorang hamba Allah yang berusaha mengenal dan mencintai Nabi-Nya"
Pos ini dipublikasikan di Rasulullah SAW. Tandai permalink.