Kesempurnaan jiwa pemaaf Rasulullah Saw

Bismillahirrahmaanirrahiim, Allahumma Sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad wa Aalihi wa Sahbihi wa sallim.

Nabi Muhammad SAW, Nabi yang Pemaaf dan telah kita ketahui betapa kejamnya Quraisy mengazab Rasulullah Saw dan para sahabat di Mekkah .Telah kita ketahui betapa kejamnya mereka membunuh paman Nabi Muhammad Saw di Peperangan Uhud.

Namun lihatlah apa yang dilakukan oleh baginda saat baginda menang dan mampu untuk membalas kekejaman mereka. Adakah baginda balik membalas mereka? Simaklah kisah berikut:

Hari Fathu Makkah, ya pada hari pembukaan kota Mekkah itu Rasulullah Saw datang bersama pasukan berkekuatan 10.000 tentera dengan persenjataan yang lengkap. Abu Sufyan, pemimpin Quraisy memperhatikan kekuatan itu dari atas sebuah bukit. Ia
berkata kepada Abbas, paman Rasulullah Saw. “Wahai Abbbas, tak seorangpun yang sanggup dan kuat menghadapi pasukan sehebat ini.”
Namun apakah Nabi Saw melampiaskan dendamnya pada saat berkuasa seperti itu? Apakah Nabi mencari Hindun dan Wahsyi yang telah membunuh dan memakan jantung Hamzah paman nabi? Apakah Nabi membalas dendam atas kematian Mus’ab bin Umair di perang Uhud yang mayatnya dicincang orang kafir? Tidak , tidak! Pada masa itu baginda tidak menghukum sesiapapun. Baginda Saw menyebarkan rahmat dan cinta kasih kepada orang
Mekkah yang selama ini memusuhinya dan ingin menghancurkannya. Pada masa itu baginda Saw memaafkan mereka semua seraya berkata: “Siapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan dia juga selamat.”

Subhanallah.. hari itu sejarah mencatat bahwa baginda telah
memberikan ampun, maaf dan janji keselamatan kepada musuh-musuhnya. Hari itu runtuhlah benteng kesombongan kafir Quraisy. Dengan kata maaf yang diumumkan secara meluas itu insaflah Quraisy akan kesalahan mereka selama ini. Seluruh kesalahan Quraiys dari pertama menyiksa umat Islam, memfitnah Nabi Muhammad Saw sebagai orang gila,penyihir dan dukun, memerangi dan membunuh umat Islam selama bertahun-tahun..dimaafkan dan diampunkan Nabi tanpa kecuali. Allahu Akbar, alangkah luasnya samudera maaf di hati Rasulullah. Ditebarnya senyum kepada seluruh kafir Quraisy dan dituturkannya dengan lembut kepada manusia-manusia berhati besi itu, “Idzhabuu wa antum
Thulaqaa….pergilah, kamua semua bebas.”

Kemaafan Rasulullah untuk Orang yang Memerangi Islam
Kebaikan Rasulullah Saw itu ternyata tidak juga difahami dengan baik oleh semua Quraisy. Masih saja ada tiga orang pemuka Quraisy yang tidak mau menerima perdamaian dan tetap memutuskan untuk memerangi pasukan Islam. Mereka
adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Sofwan bin Umayyah dan Suhail bin Amru. Tiga himpunan tentera itu berjaya ditumpaskan
oleh pasukan Islam dengan mudah. Kerana takut dibunuh ketiga-tiga pemimpin yang degil itu melarikan diri hingga
sampai ke tepi laut Jeddah. Tetapi apabila mereka kembali dengan merendahkan diri dan meminta maaf kepada Rasulullah Saw, baginda akan memaafkan mereka tanpa syarat.

Berikut ini cerita Sofwan bin Umayyah yang lari ke pantai Jeddah. Salah seorang Sahabat bernama Umair bin Wahab menemui Rasulullah Saw dan menyampaikan bahawa Sofwan bin Umayyah yang telah kalah berperang lari ketakutan dan bermaksud untuk menaiki kapal ke negeri Yaman. “Ya Rasulullah, Sofwan adalah ketua kaumnya. Berilah ampunan dan keselamatan kepadanya.”,
kata Umair bin Wahab.

“Huwa Aamin..dia sudah kuberi ampunan dan keselamatan.”jawab Rasulullah.
“Ya Rasulullah berikanlah kepadaku sebuah bukti untuk kuperlihatkan kepadanya bahawa engkau telah
mengampuninya.” Maka dengan serta merta Rasulullah Saw membuka serban yang dipakainya saat memasuki kota Mekah.

Umair bin Wahab pun segera memacu kudanya ke pantai Jeddah. Beliau bertemu dengan Sofwan bin Umayyah yang hampir naik ke atas kapal. “Wahai Sofwan, dengarlah perkataanku. Sesungguhnya
Rasulullah Saw telah memaafkan dan menjamin keselamatanmu. Lihatlah..ini serban baginda yang kubawa sebagai bukti.”

“Wahai Umair, sesungguhnya aku takut kerana banyaknya kesalahanku.”
“Dengarlah Sofwan, jiwa baginda itu sangat pemaaf dan mulia jauh dari apa yang engkau fikirkan.” Umair berjhasil membujuk Sofwan dan membawanya ke hadapan Rasulullah Saw.

Pada masa itu Sofwan berkata kepada Rasulullah Saw. “Sesungguhnya Umair ini mengatakan kepadaku bahawa engkau telah menjamin keselamatan diriku?”

“Benar”, jawab baginda Saw.

“Kalau begitu, berilah aku masa dua bulan untuk
berfikir terlebih dahulu.”

“Aku berikan kepadamu masa empat bulan.”

Allahu Akbar..saudaraku Sofwan telah membawa seluruh pasukannya untuk memerangi Nabi Saw ketika pembukaan kota Mekah.Rasulullah Saw berhasil mengalahkannya sehingga dia lari sampai ke tepi laut. Tapi  Rasulullah saw masih juga memafkannya
bahkan mengirimkan serbannya yang mulia sebagai bukti maafnya. Tidak hanya itu, ternyata Sofwan ini berhati keras sehingga tidak juga mau menerima ampunan dan maaf baginda. Dia minta masa dua bulan untuk menerima kemaafan itu. Namun baginda Saw sangat memahami kebekuan hati orang kafir. Justru baginda memberinya masa empat bulan.

Allahu Akbar. Tidak cukup hanya itu. Setelah mengalahkan suku Hawazin di perang Hunain Rasulullah Saw mengambil hati Quraisy yang baru masuk Islam dengan memberikan harta rampasan perang berupa beratus-ratus ekor unta dan kambing serta ratusan keping uang emas dan perak kepada mereka. Bahkan Rasulullah Saw tidak memberikan sedikitpun harta ghanimah kepada Muhajirin dan Anshar yang benar-benar berperang ketika itu.

Semuanya kerana baginda ingin mengambil hati mereka dengan menunjukkan ketulusan rasa persaudaraan Islam.Ampunan Nabi Saw untuk Orang yang Ingin Membunuhnya. Setelah menguasai kota Mekah Rasulullah Saw tinggal di sana untuk beberapa lama.

Pada suatu hari Nabi Saw sedang bertawaf mengelilingi Ka’bah. Seorang kafir Quraisy bernama Fadhalah bin Umair mengikutinya dari belakang. Sudah lama dia mengatur rencana untuk membunuh
Rasulullah Saw. Inilah masa yang paling tepat. Rasululah Saw sedang tawaf bersendirian. Fadhalah pun menghunus pisaunya untuk menikam Rasulullah Saw dari belakang. Namun ketika dia mendekat Jibril datang memberitahu Rasulullah Saw.

Maka tanpa melihat ke belakang Rasulullah Saw bersabda, “Adakah engkau Fadhalah?”
“Ya, saya Fadhalah.”

“Apakah yang engkau rencanakan dalam hatimu, tadi?”

Alangkah terkejutnya Fadhalah. Ternyata Rasulullah Saw mengetahui keberadaannya di belakang dan mengetahui niat jahatnya.Maka diapun berbohong. “Tidak ada Ya Rasulullah. Saya tadi tengah berzikir.”

Rasulullah tersenyum mendengar jawaban Fadhalah itu. Nabi mengucapkan “Astaghfirullah” lalu meletakkan telapak tangannya di dada Fadhalah sehingga hatinya menjadi tenang. “Sungguh ketika Nabi telah mengangkat tangannya dari
dadaku, maka tidak ada yang lebih kucinta di seluruh dunia ini kecuali Rasulullah Saw.”Demikian kata Fadhalah.
Subhanallah..alangkah pemaafnya Rasulullah. Fadhalah datang untuk membunuhnya. Namun beliau malah tersenyum dan meletakkan tangannya yang mulia di dada Fadhalah untuk mendoakannya. Sehingga berubahlah api kebencian dalam dada Fadhalah menjadi bunga-bunga cinta yang harum semerbak.

Kesempurnaan jiwa pemaaf Rasulullah Saw teriwayatkan dalam peristiwa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Ra. Beliau meriwayatkan: “Suatu hari aku berjalan menemani Rasulullah Saw dan baginda memakai sebuah selendang di lehernya. Tiba-tiba seorang Arab Badwi menarik selendang itu dengan sangat kasar sekali, sehingga tarikan itu meninggalkan bekas yang jelas pada leher Rasulullah Saw yang mulia. Tidak cukup sampai di situ, orang Arab Badwi itu juga mengherdik Rasululah Saw dengan bahasa yang kasar, “Hei Muhammad, isikan kedua keledaiku ini dengan harta Allah yang ada padamu. Sesungguhnhya itu bukan hartamu dan juga bukan harta bapakmu!”

Mendengar tengkingan Arab Badwi yang keras itu Rasulullah Saw hanya diam dan berkata: “Harta itu memang milik Allah dan aku hanyalah seorang hamba-Nya. Tapi engkau wahai orang Arab Badwi akan dihukum atas apa yang perbuat ke atas diriku.”

“Tidak”, kata orang Arab itu.

“Mengapa tidak?”, tanya Rasulullah Saw.

“Sebab engkau wahai Muhammad tidak pernah membalas suatu keburukan dengan keburukan pula”, jawab Badwi itu.

Mendengar jawaban tersebut Rasulullah Saw tersenyum dan segera memerintahkan para sahabat untuk mengisi bakul di atas dua keledai orang Arab itu dengan gandum dan juga kurma.

Begitulah kisah kesempurnaan jiwa pemaaf rasulullah saw ,artikel ini saya kutip dan diedit seperlunya dari kontribusi Ustadz H. Arsil Ibrahim, MA pada situs www.nurulyaqin.org semoga bermanfaat.

About these ads

Tentang abizakii

"Seorang hamba Allah yang berusaha mengenal dan mencintai Nabi-Nya"
Tulisan ini dipublikasikan di Rasulullah SAW dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kesempurnaan jiwa pemaaf Rasulullah Saw

  1. oom Aved berkata:

    ijin share mas

  2. ummat Rosul berkata:

    Allahumma Sholli’ala Muhammad

  3. bambang condet berkata:

    cakeepp..ampe apa kite ..ke makam..itu..yah……?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s