Perang Tabuk Terjadi Di Bulan Sya’ban

Perang ta’buk terjadi pada tahun 9 hijriyah di bulan sya’ban,jadi salah satu kemuliaan bulan Sya’ban Adalah terjadinya perang tabuk, diriwayatkan didalam shahih Bukhari bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Tabuk pada hari kamis, Rasul menyukai kalau mushafir pada hari kamis walaupun sering hari lain,Maksudnya hari kamis lebih Beliau senangi daripada hari lainnya.

Didalam tafsir imam ibn hisyam dan juga didalam Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari juga dijelaskan didalam riwayat lainnya bahwa kejadian perang Tabuk adalah di Bulan Sya’ban dimana saat itu disebut “perang sulit” (Ghazwatul ‘Usrah). Atau Juyushul ‘Usrah yaitu pasukan yang sangat sulit, dimasa yang sangat sulit karena saat itu sedang panas yang sangat terik yang membuat para sahabat berat, saat itu Muhajirin dan Anshor berat berangkat, yang kedua Rasul maunya ke wilayah Tabuk, Tabuk itu sampai diujung pantai wilayah Romawi, kenapa? karena saat itu pasukan Romawi sudah sampai keujung laut yang mendekati ke Jaziratul Arab sudah mau menuju Madinah maka Rasul ingin menahan pasukan Romawi itu jangan sampai masuk ke wilayah Jaziratul Arab dan menguasai sampai menembus Madinah, maka di tahan disana sebelum sampai.

Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menempuh perjalanannya sangat jauh, kalau Badr jaraknya antara Makkah dan Madinah hanya 300 Km, ini perjalanan di dalam satu riwayat hampir 20 hari menuju Tabuk.Maka itu di sebut Juyusyul ‘Usrah ( yaitu pasukan yang berangkat dengan kesulitan)

Berat karena apa ? cuaca sedang sangat panas, hingga berkata kaum Munafikin kepada Ubay bin Salul, ia berkata :

“Jangan keluar disaat terik begini”

karena di saat itu juga lagi musim panennya kurma (kurma panennya disaat musim panas) jadi kurma lagi panen, kasarnya begini :
“pertanian kalian ini harus di panen, waktunya panen, mau berangkat perang di tinggal, busuk nanti panennya, saat waktunya panen panas terik pula berangkat ketempat jauh lagi di Tabuk”

Maka saat itu Allah subhanahu wata’ala menjawab Ubay bin Salul :

وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ، فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“mereka diantaranya berkata, jangan keluar disaat waktu yang panas untuk ikut bersama Rasul, katakan Neraka itu lebih panas dari pada panas yang mereka lihat, api Neraka Jahanam jauh lebih panas, mereka hanya bisa tertawa sebentar menikmatinya, menikmati panen berapa minggu, lalu mereka nanti waktunya wafat terus menangis dengan tangisan yang kekal, mereka menangis abadi dalam tangisannya” (QS Attaubah 81-82)

Maka kaum munafikin sudah tidak didengar oleh muslimin, lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Sayyidina Zeid bin Kheis Ra, Sayyidina Zeid bin Qeis Ra (dari kaum Anshor)

“wahai Zeid bin Qeis, bukankah engkau ini punya teman dan keluarga dengan Bani Jalad (musuh yang paling jahat di wilayah Tabuk yang bersatu dengan Romawi, yang menolong Romawi untuk masuk, pasukan yang buas dan bengis membunuh) lalu kau punya hubungan keluarga dengan mereka”kata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam,

maka berkata Zeid bin Qeis Ra;

“wahai Rasulullah, coba jangan aku yang berangkat kesana karna aku ini terkenal wanita – wanita disana itu cantik – cantik, karena mereka banyak menikah dengan wanita romawi, aku ini lemah dengan wanita kalau melihat wanita cantik takut tergoda, makanya jangan aku ya Rasulullah yang berangkat”

Turun Ayat, dimasa itu orang kalau menolak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam turun ayat, Rasul tidak memerintah dengan tegas, tapi Allah yang memerintahkan tegas :

“mereka ada yang berkata izinkankan aku jangan jatuhkan aku dalam fitnah, sungguh sebab mereka ingin menghindari fitnah mereka jatuh dalam fitnah Neraka Jahanam” kata Allah subhanahu wata’ala,

Maka para mufatshir menjelaskan makna ayat ini adalah :
keberangkatan diapun seandainya terjebak fitnah kaum wanita, tapi karena di perintah oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih baik dari pada dia menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena menolak perintah Rasul, Neraka Jahanam urusannya, kalau sudah perintah langsung, bertemu dengan Rasul “berangkat kamu sana” menolak maka tentunya itu sudah kekufuran, demikian jumhur seluruh Mazhab.
Maka akhirnya Ibn kheis Ra berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia selamat dari fitnah bahkan tidak bertemu dengan Bani Ashor.

Diriwayatkan di dalam Sirah ibn Hisyam ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam akan berangkat maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw untuk menjadi wakil Beliau di Madinah, untuk menjaga Istri istri beliau, keluarga kerabat dan putri beliau yaitu istri Sayyidina Ali, Sayyida Fathimah Azzahra Ra, maka ia di olok olok oleh kaum munafik, mereka berkata;

“Rasul tidak memakai engkau wahai Ali, Rasul tahu kau ini tidak ada apa – apanya, kau itu tidak dipakai lagi untuk perang sudah cukup”

Maka murka Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw seraya mengambil pedang dan menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata;

“ya Rasulullah, aku berangkat”

Rasul berkata :

“Wahai Ali, kau ini ku titipkan istri dan putriku apakah kau tidak senang kau ini berada didalam kedudukan Nabi Harun di sebelah Nabi Musa, Nabi Musa kan temannya Nabi Harun, Nabi Harun adalah kira – kira adik seperguruannya Nabi Musa derajatnya di bawah Nabi Musa tapi sama – sama Rasul, maukah kau posisimu seperti itu, Cuma tidak ada Nabi setelahku, kalau ada Nabi sesudah aku kau sudah seperti posisi Nabi Harun yang selalu bersama Nabi Musa, tidakah kau rido?” (Shahih Bukhari)

Maka Sayyidina Ali pun tenang, ia pun menaruh pedangnya kembali, ia menjaga Madinatul Munawarah.

Hadits yang saya sebutkan tentang Sayyidina Ali teriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mensejajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Sayyidina Ali sebagaimana Nabi Musa dengan Nabi Harun, namun tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jadi sangat di cintai oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam demikian Riwayat Shahih Bukhari,

lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka untuk bershadaqah, untuk membagi harta bagi – bagi yang mampu untuk keberangkatan dalam perang Tabuk,

Dan di saat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a sekaligus mengajak para Muhajirin dan Anshor untuk berinfak membantu untuk dana dakwah beliau menuju Tabuk disaat Rasulullah berdiri ;“siapa yang mau berinfak?”

sayyidina Utsman berdiri;“aku ya Rasulullah 100 ekor onta” (1 ekor onta itu harganya 40 ekor kambing) 100 ekor onta sudah dengan pelananya “Siap”,kata  sayyidina Utsman bin Affan ra,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata;“jazakallah khair ya Utsman” duduk Sayyidina Utsman,

Rasul berdiri lagi;“ada lagi yang mau berinfak?”
Sayyidina Utsman berdiri lagi ;“ya Rasulullah, aku 200 ekor onta tambah yang tadi 100 jadi 300”
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata ;“cukup Utsman duduk, yang lain ada yang bantu?”
berdiri lagi Sayyidina Utsman;“ya Rasulullah 300 ekor onta tambah 300 yang tadi 200 pertama 100, 200, 300 jadi jumlahnya 600 ekor onta dengan pelananya dengan perlengkapannya fisabilillah”
Maka berkatalah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam;“tidak ada lagi yang akan musibah menimpa Utsman bin Affan setelah ini”
seluruh biaya menuju perang Tabuk ditanggung Utsman bin Affan Ra.

Maka berangkatlah meraka menuju Tabuk dan ketika itu Sayyidina Abu Khaitsamah Ra ia datang ke Madinah, Rasul sudah berangkat.

“Mana Madinah sepi?”
“ Rasulullah sudah berangkat semua”
“ kemana?”
“ Menuju Tabuk”
“ oh ya sudah aku tidak ikut sudah terlambat”
Maka diapun masuk kerumahnya, rumah di zaman dulu tidak ada lantai ubin, tanah saja, dia mempunyai 2 istri, dua – duanya sedang di ruang tamu membasahi tanah itu menjadi dingin, minuman, makanan di siapkan, air yang dingin dari Girba (kantung air dari kulit kambing yang di gosok sampai bersih dijadikan tempat isi air di gantung supaya tertiup angin jadi air dingin), air dingin dengan buah – buahan di siapkan, berkata Abu Khaitsamah Ra; “aku masuk ke tempat sejuk dan dingin, Rasulullah dalam keadaan panas dan haus, Demi Allah tidak akan ku injakan kakiku kedalam rumah”
ia pun berkata;“siapkan kudaku, aku tidak masuk kerumah aku tidak rela menginjakan kaki di tanah yang sejuk, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di luar dalam keadaan panas dan kehausan, aku tidak mau masuk, siapkan pakaian perang, siapkan kuda aku berangkat,”
diapun menyusul, tengah perjalanan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sedang beristirahat dengan para Sahabat (diriwayatkah Sirah Ibn Hisyam) maka salah seorang yang menjaga berteriak di atas bukit. “Wahai Rasulullah ada orang naik kuda yang datang”

Rasulullah tersenyum “ pasti Abu Khaitsamah” ,

Betul saja Abu Khaitsama yang datang Ra, dan di Tanya oleh Rasul “apa yang membuatmu telat?”.

Maka ia berkata “ya Rasulullah aku datang terlambat, aku masuk kerumah lihat rumah sudah sejuk, siap makanan dan minuman, aku lelah habis berburu, tapi ingat engkau kepanasan dan kehausan aku tidak mau menginjak sejuknya tanah, aku terus melangkah pergi dan menyusulmu” Maka Rasul mendo’akannya kebaikan.

Demikian ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dekat dengan medan Tabuk, semakin dekat dengan wilayah Tabuk terjadi kekeringan Dan para sahabat mengadukan mereka kehabisan air, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a tidak lama kemudian datanglah awan gelap dan hujan pun turun dengan derasnya, hujan tidak berhenti sebelum semua tempat air mereka penuh, baru hujan berhenti.

Hadirin hadirat perjalanan di lanjutkan ke Tabuk, saat itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kehilangan ontanya, ontanya di malam hari hilang, ontanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat di suruh mencari, salah seorang munafik ikut bersama seorang Anshor bernama Ummarah Ra, Ummarah ini membawa si munafik ini dari Madinah ikut ber dua bersamanya di ontanya, munafik ini bicara “katanya Nabi, bawa kabar dari langit, tapi ontanya hilang ia tidak tahu kemana ontanya, masa iya Nabi tidak tau ontanya hilang tidak tau dimana, dia bawa kabar dari langit ontanya hilang dia tidak tahu”

Maka ketika kabar sampai pada Ummarah Ra, Ummarah sedang dihadapan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasul sedang duduk cerita, Rasul berkata “temanmu lagi berbicara di sana mengatakan aku ini Nabi membawa kabar dari langit tapi tidak tau ontaku ada di mana sebentar lagi kabarnya sampai”, betul saja kabarnya sampai, “ya Rasulullah teman Ummarah ini, yang menumpang di ontanya Ummarah, dia berkata begini……”, Rasul sudah sudah tau sebelum kau beritau, Rasul tau tempatnya di tempat anu, ontanya tercekik, talinya oleh pohon – pohon tidak bisa pulang, Rasul tau tempatnya dimana, maka Ummarah ini marah melihat temannya “kamu tidak boleh lagi naik ontaku lagi, turun dari ontaku, jalan kaki kamu kurang ajar pd Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sudah di bawa dari Madinah sampai Tabuk bicara seperti itu lagi menghina Rasul”
Disaat itu orang munafik itu terpaksa tidak ikut karena tidak ada yg mau membawanya, karena dia tidak beradab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian sahabat tertinggal, banyak yang tertinggal, Rasul berkata biarkan jika Allah kehendaki, Allah menyusulkan mereka untuk kita, saat kita Istirahat Allah yang permudah jalan mereka sampai.

Di antara mereka Abu dzarr Al Ghiffarri Ra di riwayatkah di dalam Sirah Ibn Hisam, keledainya sudah tua dan lemah, akhirnya lambat, akhirnya dia turun membawa barangnya dia panggul, dia jalan kaki sendiri menelusuri jalan untuk mengikuti pasukannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Rasul Istirahat. “ya Rasulullah ada orang berjalan kaki bawa barang – barangnya”, Rasul berkata “Pasti Abu dzarr..!, betul saja, Rasul bersabda : “kemuliaan dan kasih sayang Allah dan Rahmatnya semoga untuk Abu dzarr, Dia jalan datang sendirian menyusul kita, nanti wafatnya sendiri dan nanti akan di bangkitkan di hari kiamatpun sendiri, oleh Allah di muliakan.

Maka periwayat Hadits ini, yaitu Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Ra, jauh setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ia melihat Abu dzarr ra, saat berjalan menuju Madinah menuju Iraq, maka ia melihat di satu tempat terbujur jenazah, terus ada seorang anak kecil berdiri di tengah jalan bersama wanita, di pinggir jalan
“ini jenazah siapa menghalangi jalan, hampir saja terinjak oleh kudaku” kata Abdullah bin Mas’ud ra “aku mau buru – buru ke Madinah” Lalu anak itu berkata “ini ayahku Abu dzarr ia wasiat katanya kalau ia wafat , tolong di tutup tubuhnya lalu palangkan di jalan, nanti ada orang dari sahabatku yang akan menemuiku, orang pertama yang menemui jenazahku, kasih tahu aku adalah Abu dzarr minta di makamkan dengan pemakaman yang layak “
Maka menangis Abdullah bin Mashud Ra
Ia berkata “ini ucapan Rasulullah di perang Tabuk, ia datang sendiri, wafat sendiri dan di bangkitkan kelak sendiri dengan Allah subhanahu wata’ala”

Hadirin hadirat demikian Abu dzarr al ghiffari Ra

Di dalam kejadian di perang Tabuk pula Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menundukan beberapa Raja – Raja yang menentang muslimin di wilayah Tabuk diantaranya Raja Yohana (kalau kita kenal mungkin bahasa latinnya Raja Yohanes) di tundukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga akhirnya dia berhenti dari memerangi Islam, memerangi Rasul, menyerah maka dia pun membayar jizyah (pajak yang di kenakan bagi orang – orang yang Non Muslin, kalau dia berada di Khilafah Islamiyah) koq non muslim di suruh bayar pajak? jusru mulimin lebih banyak kewajibannya kalau non muslim hanya bayar jizyah, tapi muslim ada zakat Fitrah, ada Zakat tijarah, ada zakat Mal, ada zakat thimar, ada zakat lain banyak ada 7 macam zakat, kalau non muslim hanya 1 jizyah saja, untuk apa ? untuk menjaganya, uang yang ia bayar jizyah itu untuk menjaganya, dia di jaga oleh pasukan muslimin, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat :
“Bismillahirrahmanirrahim”
“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Nabi Rasul Utusan Allah subhanahu wata’ala kepada Raja Yohana, perjanjian dia telah membayar jizyah maka dia berada di dalam jaminan keselamatan Allah, dan jaminan keselamatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia aman semua kapal kapalnya, semua kendaraannya, dan dia aman di daratan dan di lautan”
demikian jaminan dari Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Raja Yohana yang Non muslim, namun ia mengadakan perjanjian baik dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beberapa kekuasaan lainya pun di tundukkan dan setelah itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menanti tinggal 1 namanya Raja Ukaidar, Raja Ukaidar ini masih belum mau tunduk, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Sayyidina Khalid bin Walid, Khalid bin Walid cerita “ya Rasulullah, pasukan kelelahan, ini perjalanan jauh, panas lelah, mereka juga kalau di suruh tempur, kalau bukan perang dari bantuan Allah dan Rasul tidak akan mampu menghadapi pasukan Romawi yang akan tiba di tempat ini”

Pasukan Romawi akan menyeberang dari lautan, dan akan datang
Maka Rasul bersabda : “ya sudah selesai semua tinggal satu ini Kekuasaan Raja Ukhaidar, Khalid bin Walid sekarang Kau pergi kesana, kau akan temui dia keluar tengah malam, dia akan perangi kita dan kita akan mengalahkannya dengan cara yang mudah, mudah saja”
maka Khalid bin walid Ra berkata kepada Rasul saw “bagaimana caranya wahai Rasul?, Rasul saw bersabda : kau datangi saja istananya, nanti dia akan keluar karena mengikuti kerbaunya, kerbaunya akan lari keluar istana”
Khalid bin Walid pun terdiam…, “ kerbau..?, kerbaunya keluar di tengah malam kabur, apa iya?”, maka ia, ia ikut saja Rasulullah bilang begitu dia naik ke atas tempat yang tinggi dia lihat, kerbaunya betul2 keluar dari kandang nya mendobrak pintu gerbang istananya dari dalam, keluar dari kandangnya lari keluar, istrinya berkata ini tidak pernah terjadi selama lamanya sampai kerbau ini menghancurkan pintu gerbang kita tengah malam lagi…, Kejar..!, Raja Ukaidar mengejarnya maka dia menemui kudanya Rasul dan membunuh kudanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. maka punya alasan Khalid bin walid untuk menyerangnya maka ia pun di kalahkan dan iapun mengakhirinya dg mengalah.

Rasul menanti selama 10 hari, tidak ada kecuali Allah mendatangkan angin yang demikian dahsyatnya meniup kearah laut hingga pasukan Romawi itu tidak kunjung datang sampai di atas 10 hari, Lebih dari 10 hari belasan hari, kurang dari 15 hari Rasul menanti tidak ada, pulang, Kata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kita kembali ke madinatul Munawarah
Maka mereka pun pulang dari Perang Tabuk dan tidak lagi terjadi pertempuran tapi banyak terjadi kejadian – kejadian yang luhur di dalam perjalanan pulang Rasul membangun 17 mesjid yang dibangun oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan itu, dan sampai di madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melihat gunung uhud dan berkata (sebagaiman di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari)
“ini adalah gunung Uhud mencintai kita, dan kita mencintai gunung Uhud”
masya Allah.. ,
cintanya gunung uhud berpijar terlihat oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasul pun menjawab cintanya bongkahan batu itu.

Hadirin hadirat bongkahan batu itu ternyata bukan benda mati yang seperti kita ketahui, tapi Allah sudah berfirman bahwa semua benda itu mempunyai perasaan bahkan gunung itu mempunyai kekhusukan bukankah Allah telah berfirman
“kalau seandainya kami turunkan Al Qur’an di atas puncak sebuah gunung niscaya akan tuntut hancur berantakan karena takutnya kepada Allah”
Berarti punya perasaan takut, berarti itu bukan benda mati dan ternyata memiliki cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
kalau gunung cinta bagaimana dengan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah bongkahan batu itu hanyalah gunung – gunung itu hanya bongkahan batu, hanyalah batu – batu kerikil dan cadas ternyata ia mencintai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana perasaanku dan kalian ? bagaimana aku dan kalian yang di janjikan syafa’at di yaumil qiyamah
“aku menanti kalian di telaga haud, aku menanti kalian di shirath, aku menanti kalian di mizan”
demikian Nabiku dan Nabi kalian. dan jika kita bertanya apakah cinta kita di jawab oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, aku nih banyak dosa jangan putus asa. gunung saja cinta pd Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, di cintai pula oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih – lebih lagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam wabarik alaihi wa’ala alihi.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
di riwayatkan didalam Sirah Ibn Hisyam ketika sayyidina Ka’ab bin Malik Ra, salah seorang yang tidak ikut di dalam perang Tabuk, ia mampu, pecinta Rasul, dan mampu berangkat tapi ia malas berangkat, tidak ada udzurnya. Cuma ia orang yang sangat cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam selalu ikut kemana Rasul pergi. tapi pas perang dia merasa malas berangkat tidak ikut dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dia menyesal, ia langsung mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama 80 orang lainnya yang sama – sama memohon pengampunan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karna tidak ikut perang Tabuk,
di maafkan di maafkan, Rasul pun mengistigfari mereka semua pas Ka’ab bin Malik datang Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam buang muka, dia berkata
“ya Rasulullah apakah tadi kau telah mengistigfari kami?”
Rasul berkata “apa yang membuatmu tidak ikut?”, “ya Rasulullah seandainya kau ini bukan Nabi aku ini sangat mencintaimu ya Rasul, seandainya kau bukan Nabi aku akan berdusta demi cintaku terjaga supaya kau tidak benci padaku, tapi ku tahu kau ini Nabi tidak bisa di dustai tidak bisa di bohongi, Allah yang akan menjawabnya maka aku dari takut nya kau benci pada ku aku akan dusta padamu supaya kau tidak benci padaku karena kau Nabi jadi kau tidak bisa di dustai, aku jujur aku tidak punya udzur Cuma malas saja ya Rasulullah aku salah”
demikian beraninya dia, dan bersungguh – sungguhnya dia dan kuatnya cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia berani mengucapkan dengan jujur di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah saw diam, tunggu keputusan Allah “tidak satu pun diantara penduduk Madinah dari kaum muslimin yang boleh berbicara denganmu” perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. memberikan teguran kepada Ka’ab bin malik Ra. Orang yang sangat Mencintai Rasul tapi kok tidak mau ikut dengan Rasul., Ka’ab bin Malik menangis, dia berkata “yang membuat ku menangis bukan perintah itu, seandainya ku di penggal aku Ridho, tapi masalahnya Rasul sudah memohonkan pengampunan bagiku dan bagi semua yang tidak ikut maka perintah ini datang untuk ku tidak boleh di ajak ngobrol 3 orang yang kena, Allah berfirman tiga orang yang tidak ikut didalam perang Tabuk terkena teguran oleh Allah subhanahu wata’ala, tidak boleh di ajak bicara tidak boleh siapapun,
Ka’ab bin Malik berkata ini bukan karena dosaku tapi karena cintanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang tersinggung aku tidak ikut dengannya beliau tidak ingin orang yang mencintai beliau tidak ikut bersama beliau diperang Tabuk maka Rasul bertanya pada saat di Tabuk
“ayna Ka’ab bin malik?” “Ka’ab bin malik kemana? biasanya dia suka ikut bersama ku”
maka salah seorang berkata “munafik ya Rasulullah” maka berkata Abdullah bin Mas’ud ra “seburuk buruk ucapan adalah ucapanmu dia itu orang yang cinta kepada Allah dan Rasulnya”
Rasul terdiam, maka ketersinggungan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam itu membuat turunnya ayat agar Allah memberikan agar orang yang mendapat teguran tidak diajak bicara, Ka’ab bin Malik menangis.., “aku tidak sangka cintanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian besarnya padaku sampai beliau demikian tersinggung sampai Allah pun tersinggung aku tidak boleh di ajak bicara semua teman teman, semua orang ku ajak bicara ku ucapkan salam tidak satu pun menjawab”
aku datang kepada Rasul ikut shalat menjadi makmum selepas shalat aku bersalam Rasul terdiam saja kuperhatikan bibirnya bergerak tidak menjawab salamku beliau membuang muka untuk tidak menunjukan bibirnya bergerak menjawab salam atau tidak.
maka Ka’ab bin Malik mundur, sehari dua hari, akhirnya datang utusan ke hari 40, dia sudah tidak keluar rumah, hanya di rumah saja, karena ketika ia keluar kepada saudara sepupunya : “Assalamu’alaikum, aku adalah orang yang mencintaimu bukankah aku mencintaimu dan aku di cinta Allah dan Rasul….??“ Tidak di jawab oleh saudaranya, “kau bersaksi kalau aku ini mencintai Allah dan Rasul atau tidak?”. Tidak di jawab, Rasul sudah perintah tidak boleh bicara, maka ia pun pulang menangis, dia kumpul dengan 3 orang itu saja, hari ke 40 datang utusan, berkata Ka’ab bin Malik “ada ada apa ini?”, Aku utusan dari Rasul.., “apa yang di katakana Rasul?”, Kata Rasul saw “pulangkan Istrimu dari rumahmu, kau tidak boleh juga berbicara dengan Istrimu” (Laillahaillah) Berkata Kaab bin Malik, makin berat ujian aku, istrinya dipulangkan pada Ayahnya, Maka Kaab bin Malik menangis, datang para sahabat pada Rasul : “ya Rasulullah Kaab bin Malik terus menangis, tidak berhenti dari hari pertama sampai hari ini, bolehkah aku khidmah padanya karena dia tidak keluar rumah, tidak makan, tidak minum, ku bawakan minuman, makanan”
Rasul berkata “boleh tapi jangan di ajak bicara, karena Allah melarangnya”, Maka dia pun berbuat demikian.
hari ke 50 Kaab bin Malik Shalat subuh jauh dari Shaf nya Rasulullah, Rasulullah selesai shalat di sana, dia shalat jauh dari tempat terkucil lalu datanglah utusan menjerit “dimana Kaab bin Malik? Sudah turun ayat Allah telah mengampuninya”, Kaab bin Malik berdiri dan bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala, “aku tau pasti ini hari yang ke 50 datangnya perintah dari Allah untuk memafkanku bisa kembali lagi berhubungan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan akrab”, Dia datang maka para sahabatpun memeluknya, sahabat juga rindu padanya, Cuma karena Allah melarang ya sudah mundur semuanya, mereka memeluk Kaab bin Malik, berkata “Barakallahufik, selamat selamat sekarang kau sudah di maafkan Allah, turun ayat untukmu, Allah berkata mereka dari kaum Muhajirin dan Anshor dan 3 orang yang telah menentang untuk tidak berangkat ke Tabuk di Maafkan oleh Allah subhanahu wata’ala, Allah menerima Taubat kalian, ayat turun untuk menerima taubat kalian”
Maka ia sampai kehadapan Rasul saw yang sedang duduk dan mencium kaki Rasul saw dan menangis di pahanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karena gembira.

Sumber : Kutipan Ceramah AlHabib Munzir Almusawa

About these ads

Tentang abizakii

"Seorang hamba Allah yang berusaha mengenal dan mencintai Nabi-Nya"
Tulisan ini dipublikasikan di Rasulullah SAW dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Perang Tabuk Terjadi Di Bulan Sya’ban

  1. saharuddin berkata:

    Perang Tabuk berlaku di bulan Rejab tahun 9H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s