Sifat Pemaaf Nabi SAW

Menatap keluhuran diri Nabi Muhammad SAW adalah sebuah keutamaan bagi setiap mus­lim. Maka tataplah dengan tatapan cinta dan kekaguman, seraya menyambangi ke­luhuran sikap beliau ini dalam kehi­dupan kita. Berikut ini hadits-hadits yang mengetengahkan perilaku keluhuran Beliau SAW.

Dari Aisyah RA, bahwasanya ia ber­kata kepada Nabi SAW, “Adakah satu hari yang lebih berat menimpamu dari­pada beratnya Perang Uhud?”

Beliau menjawab, “Sungguh, aku mendapatkan penderitaan dari kaummu. Adapun yang paling berat adalah pada hari `Aqabah. Tatkala aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abi Yalil bin Kulal, ia tidak menjawab tawaranku sebagaimana harapanku. Lalu aku pergi dengan ke­ada­an sedih di raut mukaku. Sesampainya di Qarn ats-Tsa`alib aku sadar dan meng­angkat kepalaku. Saat itu aku dinaungi awan. Kemudian aku melihatnya dan padanya ada Jibril AS.

Ia menyeruku dan berkata, ‘Sesung­guhnya Allah Ta`ala telah mendengar per­kataan kaummu kepadamu dan me­reka tidak mempedulikanmu. Sesung­guh­nya telah diutus kepadamu malaikat penunggu gunung untuk engkau suruh dia apa saja yang kamu kehendaki untuk membalas mereka.’ Kemudian malaikat penjaga gunung itu mengucap salam dan berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Ta`ala telah men­dengar perkataan kaummu kepadamu dan aku adalah malaikat penjaga gunung. Tuhanku telah mengutusku kepadamu agar engkau suruh aku dengan perin­tah­mu, apakah yang engkau kehendaki? Jika engkau mau, aku hancurkan dua gu­nung itu atas mereka.’ Maka Nabi SAW berkata, ‘Sungguh aku masih berharap, semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi (keturunan) mereka orang-orang yang kelak beribadah kepada Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Muttafaq ‘Alaih).

Syarah Hadits

Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Mula Penciptaan bab Me­nyebut Malaikat dan kitab Tauhid bab “Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, sedangkan Muslim meriwayat­kannya dalam kitab Peperangan bab Siksaan yang Didapati Nabi SAW dari Orang-orang Musyrik dan Munafiq.

Dalam Perang Uhud, Nabi dan kaum muslimin mengalami kekalahan cukup telak. Bahkan beliau mengalami luka di wajah, patah tulang rahang, dan tercebur ke dalam lubang jebakan yang dibuat Abu Amr Ar-Rahib. Di samping itu, paman be­liau yang bernama Hamzah wafat dalam kejadian itu.

Sedangkan dalam peristiwa Aqabah telah disebutkan beliau sendiri di atas. Aqabah adalah sebuah tempat arah Thaif, yang dilalui beliau saat hijrah ke sana. Ada juga yang mengatakan, Aqa­bah yang dimaksud adalah suatu daerah dekat Mina, saat itu beliau menawarkan dirinya berdakwah bagi kabilah-kabilah di sana ketika musim haji. Adapun Qarn Tsa‘alib adalah sebuah tempat yang un­tuk menempuhnya butuh waktu sehari se­malam ke Makkah. Qarn Tsa‘alib juga tempat miqatnya jama’ah haji penduduk Najd.

Mulanya beliau berharap tawarannya untuk memohon bantuan dan pertolong­an dari kabilah tersebut dipenuhi, namun kenyataan pahit menimpa beliau. Mereka, yang dikomandoi Ibnu Abdi Yalil alias Mas‘ud dari kabilah Tsaqif ini, malah mencaci maki Nabi dengan ungkapan-ungkapan keji dan bahkan mencederai beliau.

Betapa beratnya beban yang dihada­pi Nabi. Sungguh tak terperikan! Hingga malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk turun tangan membalas sikap kabilah-kabilah itu, namun Rasulullah SAW dengan keluhuran akhlaqnya men­jawab tawaran itu, “Aku berharap, mudah-mudahan Allah Ta`ala melahirkan dari diri mereka kelak keturunan-keturunan yang menerima ajakan dakwah ini.”

Hadits ini menjelaskan betapa luhur­nya kasih sayang Rasulullah SAW ke­pada kaumnya dan kesabarannya atas penderitaan yang mereka timpakan ke­pada beliau. Beliau tidak marah atas de­rita dirinya atau mengancam dan men­den­dam atas derita itu, bahkan beliau tang­gung itu semua demi jalan dakwah dan berharap hanya kepada Allah Ta’ala. Beliau memang teladan bagi para pen­dakwah di setiap zaman!

Dari Anas RA, ia berkata, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW. Saat itu beliau membawa selimut Najran yang tebal pinggirannya. Lalu (kami) bertemu seorang Arab Badwi yang kemudian se­konyong-konyong menarik-narik selen­dang beliau dengan kuat. Aku lihat di leher beliau terdapat guratan luka akibat kuatnya tarikan selendang beliau (oleh si Badwi itu). Kemudian si Badwi ini berkata, ‘Hai Muhammad, berikanlah harta Allah yang ada padamu!’ Beliau menoleh ke­pada orang Badwi itu lalu tertawa. Lalu beliau menyuruh untuk memberikan per­mintaan orang Badwi itu.” (Muttafaq `Alaih).

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Pakaian bab Selimut dan Pakaian Halus dan kitab Adab bab Senyum dan Ketawa. Adapun Muslim me­riwayatkannya dalam kitab Zakat bab Memberi kepada Orang yang Meminta de­ngan Cara Keji dan Keras.

Demikianlah Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok teladan dalam bersikap. Sekalipun hal itu menyakitinya, beliau mem­beri maaf dengan senyuman dan bah­kan memberi apa yang dimilikinya ke­pada orang yang menyakitinya.

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang perkasa itu orang yang jago berkelahi, namun sesungguhnya orang yang perkasa itu adalah orang yang dapat mengendalikan emosinya tatkala marah.” (Muttafaq `Alaih).

Syarah Hadits

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari da­lam kitab Adab bab Waspada dari Marah, sedangkan Muslim meriwayat­kan­nya dalam kitab Kebajikan bab Orang yang Mengendalikan Emosinya saat Marah.

Kekuatan hakiki adalah kekuatan akh­­laq, yakni kemampuan menahan diri dari amarah sekalipun ia punya kemam­puan diri untuk membalasnya. Namun de­miki­an, Islam juga tidak mengesam­ping­kan kekuatan fisik selama demi amal kebaik­an.

Sumber Artikel : Dikutip dari Majalah Alkisah

Dipublikasi di Rasulullah SAW | Tag

Contoh akhlaq Rasulullah SAW

Tulisan Agus Sofyan, Kentucky,USA

Thumamah bin Uthal adalah pemimpin suku (bani) Hanifah dari daerah penghasil gandum terbesar di jazirah Arab pada saat itu, Yamamah. Thumamah tidak peduli dengan perseteruan antara Quraisy Makkah dan Prophet Muhammad SAW di Madinah; sampai dia menerima surat “ajakan” untuk menyembah Allah oleh Rasulullah. Thumamah langsung naik pitam. Darahnya mendidih karena marah dengan kelancangan Rasulullah “memerintahkan” dia, Thumamah si pemimpin besar bani Hanifa!. Saking marahnya Thumamah mengadakan beberapa kali gerakan rahasia membunuh Nabi SAW. Thumamah tidak pernah berhasil membunuh Nabi tapi berhasil membunuh beberapa Muslimins.

Pada saat musim haji (jaman sebelum Rasulullah, orang Arab juga berhaji tapi ritualnya beda), Thumamah pergi untuk berhaji. Dia tidak sadar kalau salah arah.Tak dinyana, dia berkemah di daerah kekuasan kaum Muslimin Madinah. Akhirnya dia tertangkap dan dibawa ke Masjid AnNabi dan diikat disalah satu pilar Masjid. Tak ada seorangpun dari pasukan yang menangkap Thumamah tahu kalau orang yang ditangkap adalah Thumamah, pemimpin bani Hanifa, yang sering menyerang Rasulullah dan pengikutnya.

Pada saat Rasulullah SAW datang untuk sholat Fajr dan melihat Thumamah terikat di pilar Masjid, beliau bertanya kepada para sahabat apakah mereka tahu kalau orang yang mereka tangkap adalah Thumamah? Para sahabat sangat kaget mendengarnya. Rasulullah SAW memerintahkan untuk memperlakukan Thumamah dengan baik. Beliau kemudian memimpin shoolat Fajr disaksikan oleh Thumamah!. Setelah sholat Fajr, Rasulullah pulang ke rumah dan meminta istrinya untuk memasak makanan yang lezat untuk Thumamah. Rasulullah sendiri memerah susu kambing untuk Thumamah. (Allahumma shalli ‘ala AnNabi!). Beliau memerintahkan penjaga tawanan untuk mengendorkan ikatan dan membeiarkan Thumamah menyantap hidangan lezat dan meminum susu kambing tsb dengan lahap. Setelah melihat Thumamah selesai dengan santapannya, Rasulullah bertanya: “Apa yang engkau inginkan wahai Thumamah?”. Thumamah terdiam sejenak. Rasa marah terhadap Rasulullah SAW hilang setelah merasakan sendiri perlakuan Rasulullah yang lembut thd dia. Kemudian dia berkata: “O Muhammad, aku serahkan urusanku padamu. Kalau engkau ingin membunuhku, maka aku siap. Kalau engkau membiarkan aku pergi dan menginginkan harta dariku, aku siap”. Rasulullah SAW tidak berkata apa-apa kemudian berjalan pergi meninggalkan Thumamah yang kebinguungan dengan sikap Rasulullah SAW tersebut.

Selama tiga hari Rasulullah SAW tidak menegur Thumamah. Tapi beliau terus memerintahkan untuk memperlakukan Thumamah dengan baik dan memberi makanan yang lezat kepadanya. (Note: Dalam Islam kita diwajibkan untuk melayani tamu kita dengan sangat baik. Yang dicontohkan Rasulullah terhadap Thumamah diluar dugaan dan kemampuan kita. Beliau bahkan memperlakukan “MUSUH” dengan sangat baik). Selama 3 hari 3 malam Thumamah menikmati hidangan lezat dan menikmati tayangan kehidupan Rasulullah dan sahabatnya di dalam Masjid. Thumamah menikmati tayangan sholat, tazkirah, tausiyah, rapat, dll kegiatan di dalam Masjid. Thumamah merasakan kesejukan luar biasa dalam dirinya dan “bahagia’ hidup sebagai tahanan perang Rasulullah SAW.

Setelah tiga hari membiarkan Thumamah menikmati semua hidangan dan tayangan, kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada Thumamah: “Apa yang engkau inginkan wahai Thumamah?”. Thumamah menjawab: “Wahai Muhammad, engkau tahu keputusanku. Terserah kepadamu. Kalau engkau hendak membunuhku, maka aku siap. Kalau engkau meminta harta dan membiarkan aku pergi, maka aku akan memenuhinya”. Rasulullah SAW tidak berkata apa-apa dan memerintahkan para sahabat untuk membebaskan Thumamah dengan damai. Thumamahpun pergi dengan perasaan campur aduk. Setelah keluar dari kota Madinah, dia duduk istirahat dan dengan perasaan campur aduk tadi merenung seorang diri di bawah pohon kurma. “Apa yang telah saya lakukan?” Seolah tersadar dari tidur, Thumamah kemudian berbalik arah dan kembali masuk kota Madinah dengan langkah mantap untuk menemui Rasulullah SAW. Para sahabat bingung dan khawatir ketika melihat Thumamah kembali.

Dihadapan Rrasulullah SAW, Thumamah mengucapkan sahadah dan berkata bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang sangat dia benci sebelumnya dan sekarang merupakan orang paling dia cinta. (Allahu Akbar!). Dia minta ijin utnuk tinggal di Madinah. Rasulullah SAW bertanya apa yang sedang Thumamah lakukan ketika tertangkap oleh pasukan Muslim beberapa hari yang lalu. Thumamah bilang bahwa dia dalam perjalanan untuk berhaji. Rasulullah SAW memerintahkan Thumamah untuk melanjutkan perjalanan haji tsb dan mengajarkan Thumamah “ritual haji yang benar sesuai tuntunan Islam”. Rasulullah juga melarang Thumamah tinggal di Madinah. Lebih baik Thumamah kembali ke kaumnya dan mengajak kaumnya ke jalan Islam.

Kafir Quraisy terkejut ketika melihat ritual haji Thumamah. Mereka menasehati Thumamah yang dianggap telah gila mengikuti ajaran Muhammad SAW. Namun, taka ada seorang Quraisypun berani “macem-macem” dengan Thumamah. Mereka sadar kalau mereka ganggu Thumamah maka “Pasokan gandum” dari Yamamah akan terhenti, padahal Mekkah belum swa-sembada gandum saat itu. Thumamah berkata pada kafir Quraisy apabila mereka tidak ikut ritual dia, dia janji akan menghentikan pasokan gandum. Tentu saja tak satupaun kafir Quiraisy yang mau ikut ritual “aneh” Thumamah.

Ketika kembali dari hajj, Thumamah langsung memenuhi janjinya untuk menyetop “pasokan gandum ke Makkah”. Kafir Quraisy di Makkah menjadi sangat kesulitan dan mulai merasakan akibat “embargo gandum” Thumamah tsb. Mereka kemudian menulis surat ke Rasulullah SAW untuk meminta Thumamah menghentikan embargo gandum tsb. Rasulullahg SAW adalah “rahmatan lil ‘alamin”. Dengan rasa kasih sayang kepada semua insan, Rasulullah SAW meminta Thumamah membuka kembali “kran” gandum ke Makkah.

Sumber : Disini

Dipublikasi di Rasulullah SAW

Rindu Kepada Rasulullah saw‏

Pun rindu kita kepada Rasulullah saw. Bersama iman yang bersemayam dalam hati, rindu kita kepada beliau akan membawa kita berjumpa dengan beliau kelak di Surga-Nya.
 
Dalam kisah orang-orang shalih, disebutkan sebuah riwayat yang terpercaya tentang seseorang yang sangat rindu kepada Rasulullah saw. Lelaki itu tak pernah tidur kecuali setelah air matanya mengalir karena rindunya yang ingin berjumpa dengan Rasulullah saw.
 
Kerinduan yang menggelora itu, akhirnya membuat dia sering melihat Rasulullah dalam mimpi. Suatu malam, ia kembali bermimpi melihat Rasulullah. Dalam mimpi itu, ia merasa seolah berada di padang mahsyar. Di sana ia melihat kumpulan manusia memenuhi padang mahsyar, mereka saling berdesakan, saling tindih satu sama lain. Masing-masing dengan wajah yang telah berubah, sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Semuanya terlihat dalam keadaan sangat bingung. Ketika itulah tiba-tiba barisan para malaikat melintas, lalu lewat pula rombongan Rasulullah saw. bersama para nabi, syuhada, para wali dan orang-orang shalih. Lelaki shalih tadi hanya bisa melihat dari kejauhan dan tidak bisa mendekat kepada Rasulullah saw karena desakan para malaikat yang menghalangi orang-orang untuk bisa mendekat. Ketika barisan para malaikat itu melintas maka lewatlah Rasulullah.
 
Lelaki shalih itu juga tidak bisa mendekat, apalagi berbicara dengan beliau. Maka ia, dalam mimpi itu, berkata kepada orang yang berada di sebelahnya, “Jika kelak kamu bertemu dengan Rasulullah maka sampaikan salamku bahwa aku rindu kepadanya. Dulu di masa hidupku di dunia, aku selalu merindukan Rasulullah. Dan jika aku masuk neraka, sampaikan pula kepada beliau, bahwa aku telah berada di tempat yang layak untukku (neraka), sebagai orang yang banyak dosa.”
 
Setelah berkata demikian, barisan yang melintas tadi tiba-tiba berhenti karena Rasulullah berhenti, kemudian beliau berbalik dan berkata, “Wahai Fulan, aku tidak melupakan orang-orang yang merindukanku.” Beliau lalu membuka kedua tangannya, kemudian orang itu berlari dan memeluk sang Nabi Muhammad saw dan menciuminya.
 
Mimpi bertemu dengan Rasul adalah mimpi yang benar. Dan mimpi orang-orang shalih mengandung pelajaran yang kita bisa petik manfaatnya. Terlebih dari orang-orang yang teramat cinta dan rindu kepada Rasulullah saw, Allah pasti berikan hikmah dan keberkahan dalam hidupnya, yang bisa menjadi pelajaran bagi hidup kita.
 
Dikutip dari Majalah Tarbawi, Edisi 302 Th. 15, Syawal 1434, 5 September 2013
Dipublikasi di Rasulullah SAW

Bergembira menyambut kelahiranRasulullah

Oleh : Ustadz Jindan bin Naufal Bin Jindan

Pujian terhadap Nabi Muhammad merupakan satu hal yang dilakukan oleh sahabat, bahkan di hadapan Rasulullah. Dibanyak hadist disebutkan bahwa banyak orang dan penyair yang datang kepada Rasul dan mengucapkan syair yang berisikan pujian terhadap Rasulullah,maka Rasul pun menyambut mereka dan menghormati mereka, serta menyambut baik atas pujian mereka.Sebab beliau tahu bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk mendapatkan ridho beliau, yang mana mencari ridho Rasul merupakan jalan untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Dan mereka,para sahabat Rasulullah, bagaimana tidak memuji Rasulullah, sedangikan Allah sendiri memuji Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Kegembiraan terhadap kelahiran Rasul merupakan hal yang baik di dalam syariat. Bahkan mengenang kisah kelahiran Nabi atau Rasul merupakan sesuatu yang dicontohkan oleh Allah dalam Al-Quran. Sehingga di dalam Al-Quran, Allah menceritakan tentang kelahiran Nabi Isa alaihi salam, juga tentang kelahiran Nabi Musa alaihi salam. Yang mana Allah menceritakan itu semua secara mendetail. Apabila Allah menceritakan kisah kelahiran mereka para Nabi, maka mengapa kita tidak boleh mengenang kisah kelahiran pemimpin sekalian Nabi dan Rasul?

Rasulullah menceritakan bahwa Allah Ta’ala meringankan adzab terhadap Abu Lahab di neraka pada setiap hari Senin, dikarenakan kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad sehingga ia membebaskan budaknya yang bernama Ummu Aiman yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya. Hadist ini disebutkan di dalam Ash-Shahih Al-Bukhori .Padahal Abu Lahab adalah seorang yang kafir yang disebutkan akan kebinasaannya di dalam Al-Quran, sehingga turun surat khusus untuk menceritakan tentang kebinasaannya.Akan tetapi Allah tidak melupakan kegembiraannya dengan kelahiran Nabi Muhammad hingga meringankan adzab baginya setiap hari Senin, hari kelahiran Rasulullah.

Maka bagaimana halnya dengan seorang hamba yang mukmin, yang seumur hidupnya bergembira dengan kelahiran Rasulullah dan meninggal dalam keadaan Islam? Pastilah derajat yang besar bagi mereka.Sebagaimana Allah berfirman,“Katakanlah (hai Muhammad)bahwa dengan karunia dan rahmat Allah, maka bergembiralah dengan hal itu, itu (kegembiraan kalian) lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Kegembiraan dengan rahmat dan karunia Allah dituntut oleh Al-Quran,dan kegembiraan tersebut lebih mahal dan lebih berharga dari apa yang dikejar-kejar dan dikumpulkan manusia, baik itu harta ataupun kedudukan.Karena itu, di bulan kelahiran Rasul yang mulia ini, hendaknya kita memperkuat hubungan kita dengan Rasulullah, dengan menghidupkan sunnah beliau, mengenal riwayat hidup beliau, menanamkan kecintaan terhadap beliau, dalam lubuk hati kita serta keluarga kita, menjadikan Rasulullah sebagai idola yang tertinggi dan paling dekat dengan umat islam,serta memperbanyak shalawatkepada beliau.

sumber : bisyarah.wordpress.com

Dipublikasi di Rasulullah SAW | Tag , ,

UTBAH BERNEGOSIASI DENGAN RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHIWA SALLAM

Usulan Utbah untuk Bernegosiasi dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Ibnu lshaq berkata bahwa Yazid bin Ziyad berkata kepadaku dan Muhammad bin Ka’ab bin Al-Quradzi yang berkata bahwa aku pernah diberitahu bahwa Utbah bin Rabi’ah sang tokoh berkata ketika ia sedang duduk di tempat DaarAn-Nadwah (balai pertemuan) orang-orang Quraisy dan ketika itu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk sendiri di masjid,

“Hai orang-orang Quraisy, bagaimana kalau aku pergi kepada Muhammad kemudian berbicara dengannya dan mengajukan tawaran-tawaran? Siapa tahu ia menerima sebagiannya kemudian kita berikan apa yang diminta selanjutnya ia akan menghentikan aktivitasnya?”

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Rasulullah SAW, Sirah Nabawiyah | Tag , , ,

Cara Rasulullah SAW Berbicara.

Hasan bin Ali r.a bercerita : “Aku bertanya kepada pamanku Hind bin Abi Halah.Ia adalah seorang ahli dalam meriwayatkan tentang sifat Rasululah saw.

Tanyaku : Ceritakan kepadaku cara Rasulullah saw berbicara?
pamanku menjawab : Rasulullah saw adalah seorang yang banyak mengenyam kesusahan.beliau selalu berpikir(bahkan hampir) tidak sempat beristirahat santai.
beliau lebih banyak diam(tidak berbicara),beliau tiada berbicara kecuali apabila perlu.membuka dan menutup pembicaraannya dengan menyebut nama Allah swt.

isi pembicaraanya padat dengan makna, kata-katanya jelas,tiada yang sia-sia dan tiada pula yang kurang dipahami.

beliau tiada berlaku kasar dan tiada pernah menghina.nikmat Allah swt dibesarkannya walau pun hanya sedikit.selain itu beliau tak pernah mencaci makanan dan minuman.juga tak pernah memujinya.

Tidaklah dunia menjadikannya marah dan tidak pula beliau marah karena dunia.bila kebenaran dilanggar orang,maka tidak ada sesuatu yang akan mampu menahan amarahnya sampai beliau dapat memenangkan kebenaran itu.beliau tidak akan marah kalau hanya karena dirinya dan tidak pula beliau akan membela diri beliau sendiri.

Bila beliau menunjuk (sesuatu),beliau tunjuk dengan tangan seutuhnya(bukan hanya dengan jari).bila beliau kagum beliau balikan tanganya.bila beliau bercakap-cakap,beliau hubungkan tangan dan dipukulkan telapak tanganya yang kanan keperut ibu jarinya yang kiri.Bila beliau marah,beliau akan memalingkan wajahya,sedangkan bila beliau senang dipejamkan matanya.Sebesar-besar ketawanya hanya senyum.bila beliau tertawa,kelihatan manis sekali bagai butiran salju(terlihat giginya yang putih).”

[Diriwayatkan oleh sufyan bin waki',dari Jumai bin 'Umar bin Abdurrahman al 'Ijli,ia berkata bahwa ia mendengar dari seorang laki-laki Bani Tamim yang katanya dari putra abi halah suami kadijah Ummul mukminin sebelum menjadi istri Rasulullah saw yakni aba Abdullah yang bersumber darihasan bin Ali K.W]

sumber : As syamail Imam Tarmidzi.

Dipublikasi di Rasulullah SAW | Tag

Persinggahan Rasulullah SAW dirumah abu ayyub

Abu bakar bin Abi Syaibah,Ibnu Ishaq,dan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari beberapa sanad dengan lafal yang hampir bersamaan bahwa Abu Ayyub R.a berkata, ketika Rasulullah tinggal.dirumahku,beliau menempati bagian bawah rumah,sedangkan aku dan Ummu Ayyub dibagian atas.Aku kemudian katakan kepada beliau,’Wahai NabiAllah,aku tidak suka dan merasa berat engkau betada dibawahku.Naiklah engkau keatas dan biarkanlah kami turun kebawah.’.Nabi SAW menjawab.‘Wahab Abu Ayyub,biarkan kami tinggal dibagian bawah agar orang yang bersama kami dan orang yang ingin berkunjung kepada kami tidak bersusah payah.’ Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Rasulullah SAW | Tag

Sebagian Sifat Nabi shallallahu’alahi wasallam.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan,khususnya di bulan Ramadhan.Orang yang paling baik akhlak dan sosok tubuhnya. Orang yang paling lembut telapak tangannya dan yang paling harum baunya.Orang yang paling baik pergaulanya dan paling takut kepada Allah.Beliau tidak pernah marah atau mendendam karena dirinya. Beliau marah hanya karena larangan2 Allah dilanggar.Tidak ada sesuatupun yang dapat mencegah kemarahannya karena Allah ini hingga kebenaran menjadi pihak yang menang.

Akhlaknya adalah al-Qur’an.Beliau adalah orang yang paling tawadhu. Memenuhi kebutuhan keluarganya dan merendahkan sayapnya untuk orang2 lemah.Orang yang paling pemalu.Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali.Jika menyukai suatu makanan,ia akan memakannya dan jika tidak menyukai,beliau akan meninggalkannya. Beliau tidak pernah makan sambil bersandar (leyeh). Juga tidak pernah makan dimeja makan.Beliau menyukai manisan,madu,dan buah labu.Kadang2 sebulan atau dua bulan disalah satu rumahnya tidak pernah ada asap dapur yang mengepul.beliau menerima hadiah,tidak menerima sedekah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Rasulullah SAW | Tag

Adi bin Hatim berkisah mengenai Rasulullah SAW.

Adi bin Hatim,putra Hatim yang terkenal sangat dermawan,adalah seorang Nasrani yang sangat disegani oleh kaumnya.Ia berhak mengambil seperempat barang rampasan perang yang berhasil dijarah oleh kaumnya(tradisi yang berlaku dikalangan orang-orang arab pada waktu itu).Setelah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwahnya,dia tidak menyukai dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan kaumnya kemudian bergabung dengan orang-orang Nasrani di Syam.

Adi menuturkan kisahnya,”aku kemudian lebih membenci keberadaanku disana ketimbang kebencianku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Aku lalu putuskan lebih baik aku pergi menemuinya.Kalau ia seorang raja atau pendusta,niscaya aku dapat mengetahuinya dan jika ia seorang yang benar(Nabi),aku harus mengikutinya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Rasulullah SAW, Sirah Nabawiyah | Tag

Memenuhi Sebuah Harapan

Dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu saat Imam Ahmad bin Hambal datang ke suatu tempat yang jauh dari negerinya untuk mengambil hadits dari seorang ulama yang dia ketahui banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW.

Sesampainya di kediaman sang syaikh, Imam Ahmad menjumpai syaikh itu sedang memberi makan puluhan ekor anjing.

Melihat kedatangan Imam Ahmad, sang syaikh mempersilakannya untuk menunggu di dalam rumah.Imam Ahmad masuk ke dalam rumah dan duduk menunggu syaikh Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Riwayat | Tag ,